Membedah PER 33 2009

Posted: June 22, 2011 in News

By Marvel Sutantio | June 22, 2011

Seperti isi email saya ke Mr. Ralph Cunningham, di post ini saya akan membahas tentang isi dari Peraturan Dirjen Pajak PER 33 2009 (bisa dilihat dan di download di : http://www.pajak.go.id/dmdocuments/PER-33-2009.pdf), yang menurut saya terlalu spesifik dan memberatkan pihak importir dan pengusaha film kita.

Berikut saya tuliskan isi dari PER 33 2009 tersebut, berikut penjelasannya dalam notes yang di-bold :

Pasal 1

(1) Pemanfaatan hasil Karya Sinematografi dapat dilakukan melalui suatu perjanjian penggunaan hasil Karya Sinematografi:

a. dengan pemindahan seluruh hak cipta tanpa persyaratan tertentu, termasuk tanpa ada ke! ajiban pembayaran kompensasi di

kemudian hari;

Note : Pemindahan tanpa syarat? emang ada ya praktek bisnis gitu kalo bukan penyitaan atau pengambilan paksa?

b. dengan memberikan hak menggunakan hak cipta hasil Karya Sinematografi kepada pihak lain untuk mengumumkan dan/atau

memperbanyak ciptaannya atau produk hak terkaitnya, dengan persyaratan tertentu seperti penggunaan Karya Sinematogra{i untuk jangka waktu atau wilayah tertentu;

Note : exclusive viewing, advance preview yang tipe2 nonton 25 menit pertama film, midnight, sneak preview, or anything yang terbatas. Ini masuk ke 21

c. dengan memberikan hak menggunakan hak cipta hasil Karya Sinematografi kepada pihak lain untuk mengumumkan ciptaannya

dengan menggunakan pola bagi hasil antara pemegang hak cipta dan pengusaha bioskop; atau

Note : ini penayangan film biasa, day to day cinema business. hal wajar yang dilakukan oleh 21 dan blitz selama ini

d. dengan memberikan hak menggunakan hak cipta hasil Karya Sinematografi kepada pihak lain tanpa hak untuk mengumumkan

dan/atau memperbanyak ciptaannya atau produk hak terkaitnya.

Note : tanpa hak untuk mengumumkan dan/atau memperbanyak? What the hell, ini mah bajakan atau penayangan ilegal diluar praktek hukum, gokil banget kalo sampe ginian dimasukin regulasi perpajakan?

 

(2) Perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah perianjian yang dilakukan baik secara tertulis maupun tidak tertulis.

Pasal 2

(1) Penghasilan yang diterima atau diperoleh pemegang hak cipta dari penggunaan hasil Karya Sinematografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (1) huruf a dan huru{ d, tidak termasuk dalam pengertian royalti.

Note : Iya lah ya, kayanya di belahan dunia manapun super langka, atau hampir ga pernah ada praktik seperti a & d itu? Kalau sampai ginian masih dikenain royalty sih funky banget

(2) Penghasilan yang diterima atau diperoleh pemegang hak cipta dari pemberian hak menggunakan hak cipta kepada pihak lain

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (1) huruf b dan huruf c, termasuk dalam pengertian royalti.

Note : sudah pasti 2 praktek bisnis legal ini lah yang mungkin dikasih pengenaan pajak royalty, mo yang mana lagi coba? Menurut saya, pasal 2 ini semata-mata dibuat untuk menegaskan bahwa hanya poin b & c, alias praktek bisnis legal, alias 21 / blitz & distributor resminya yang kena

 

Pasal 3

Jumlah royalti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayal (2) yang menjadi dasar pengenaan Pajak Penghasilan adalah:

a. sebesar seluruh penghasilan yang diterima atau diperoleh pemegang hak cipta dalam hal pemanfaatan dilakukan dengan cara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (1) huruf b: dan

b. sebesar 10% dari bagi hasil dalam hal pemanfaatan dilakukan dengan cara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (1) huruf c.

Note : Seluruh penghasilan kalau penayangan eksklusif dan 10% dari keuntungan untuk setiap film normal. Sedangkan pemerintah sudah menerapkan bea 23.75%. 10% untuk pemerintah pusat, 10-15% untuk pemerintah daerah atas dasar pajak penghasilan penjualan tiket. Menurut saya saja atau menurut para pembaca sekalian kalau penerapan pajak ini memang berlebihan, dan maaf-maaf kata, keterlaluan? 

Lucunya soal PER 33 2009 ini, yaitu sudah di created dan diupload di websitenya pajak.go.id sejak 6 mei 2009.  http://www.pajak.go.id/index.php?option=com_docman&task=doc_details&gid=685&Itemid=156 Tapi kok belum pernah disosialisasikan selama ini? Kenapa gak diterapkan dan ketahuan sudah atau belumnya di audit tahun 2010? Kenapa tau2 baru muncul dan hebohnya awal tahun 2011? Trus yang paling aneh kenapa PER 33 2009 ini JARANG DAN HAMPIR TIDAK PERNAH DISEBUT oleh pihak Dirjen Pajak, Jero Wacik maupun Agus Martowardojo di media manapun sebagai penjelasan sumber pelanggaran atau hutang pihak importir dan 21? Karena takut ketahuan keabsurdannya kah? Karena takut bakal kelihatan lalai menginforce sebuah regulasi selama 2 tahun terakhir? Yang pasti kalau para pembaca perhatikan, yang pernah disebutkan kalau pihak importir / 21 hanya melanggar UU No.17/2006 seperti yang ditulis di sini : http://www.indopos.co.id/index.php/nasional/34-berita-nasional/6524-pajak-film-dalam-negeri-nol-persen-luar-negeri-naik.html

Kita memang tidak akan pernah tau ada apa yang tejadi di balik layar pemerintahan dan bisnis. Bisa saja memang pihak 21 dan Dirjen pajak (dalam arti oknum-oknum tertentu di kedua belah pihak) yang sama-sama tidak jujur dan mengikuti aturan yang berlaku sejak dahulu. Tapi setidaknya, dengan adanya PER 33 2009 ini sudah jelas bahwa pihak Dirjen Pajak yang menerapkan aturan absurd yang meminta lebih banyak uang dan bea dari bisnis perfilman, itu satu fakta yang saya rasa tidak mungkin bisa dipungkiri lagi.

Peraturan Dirjen Pajak PER 33 2009 diatas adalah nyata dan bisa para pembaca baca sendiri. Apa yang saya lakukan hanya menjabarkannya saja. Terima kasih untuk perhatian dan waktunya membaca post ini.

Advertisements
Comments
  1. melanie farrales says:

    hi…is it possible if u could translate the news ans comments in english?? thanks..:))

  2. josh-r says:

    bro marvel sempat diinterview sm media luar negeri y ? saya liat di page Gerakan 1 juta bro marvel dan blognya sempat disebut dlm sebuah artikel Associated Press dan skrg sudah menyebar ke koran2 USA lainnya. ada sekitar 7 koran luar negeri yg “meminjam” artikel dari AP tsb. salut buat bro marvel.

  3. Set says:

    Terima kasih telah membuat page blog ini.

    Satu point yg membuat saya ‘getek’ yaitu pasal 1a,

    Pendek kata:
    Berarti kalau misalnya saya membuat film, berarti saya harus rela ‘memberikan’ karya saya itu kepada pihak lain? Alias, film bikinan saya itu bukanlah milik saya lagi dan saya tidak dapat meng-klaim apapun dari hasil karya yang telah saya buat ?

    • Terima kasih kembali sudah membaca dan memberi komen pak. Iya, pasal 1a dengan kata lain harusnya dianggap video aksi sosial saja, dimana semua orang bisa nonton dengan gratis. Yup, penyerahan hak cipta tanpa syarat, tanpa kewajiban bayar kompensasi or apapun jg. Paling nama Anda cuma di credits nya sbg pencipta, dan si penerima hak cipta tsb bisa menggunakan film tsb sesukanya, semua keuntungan untuknya dll. Jelas tidak mungkin pasal 1a, dan tentunya lebih tidak mungkin lagi pasal 1d yang jelas2 pembajakan dan pelanggaran hak cipta bukan? Mau tidak mau, cuma pasal 1b dan 1c saja yang berlaku untuk praktek bisnis legal secara hukum.

      • Set says:

        (Aneh bin ajaib)

        Kalau mungkin, barangkali ada perbandingannya dengan Hollywood ?
        Termasuk juga dari sisi workflow-nya untuk urusan ini (tidak dari segi teknis cara membuat film) yang dimulai dari titik :
        “Saya memiliki ide, dan saya mau buat film, apa yang harus saya lakukan jika saya berada di (a) Indonesia, (b) Hollywood ? Lalu bagaimana urusan akhir dan kebijakan kepemilikannya?”

        — Ini cukup menjawab pertanyaan mengapa tidak ada film berkualitas serta kecilnya minat untuk masuk ke dunia filmmaking, yang hanya gara2 dimulai dengan pasal 1.

    • Pepper says:

      Phnemoneal breakdown of the topic, you should write for me too!

    • Analie says:

      I just want to mention I am very new to blginogg and site-building and really enjoyed your website. Likely I’m planning to bookmark your site . You surely have perfect writings. Thanks a lot for sharing your website page.

      • Really sorry for the very late reply. Good luck on blogging and site building. Hope it goes well after all these years. Glad you enjoyed my site / blog and thank you for your kind words. I don’t have perfect writings, far from it lol. Thank you again for everything 🙂

  4. Ditto says:

    Bravo pak, saya sangat tergerak dengan tulisan bapak selama ini. Semoga perjuangannya mendapatkan hasil yang setimpal. Saya tidak bisa membantu apa-apa selain dengan doa.

    • Terima kasih banyak untuk komennya pak, syukurlah kalo blog dan tulisan saya bisa menggerakan bapak. Amin pak, ini bukan perjuangan saya saja, tapi juga perjuangan seluruh pencinta film di Indonesia, apa yg saya lakukan cuma bagian dr perjuangan yang sama, bersama Gerakan 1 Juta Orang Butuh Film Bermutu dan semua orang yg menginginkan keadaan kembali seperti dulu. Doa dan komen dukungan bapak sudah lebih dari cukup, terima kasih ya pak. Tolong doakan saja semoga keadaan segera pulih kembali, semoga bapak sukses selalu juga. Thanks pak!

  5. helmi says:

    bro, g minta izin quote blognya ke kaskus yah, biar pembaca di sana juga mengerti dengan jelas mengenai hal ini. mohon izinnya yah bro.

    • Boleh banget bro, quote blog trus masukin isi2nya semua ke kaskus jg gpp. Skalian tolong di link URL nya jg, sekarang ud jadi indonesianmoviecrisis.org domainnya g upgrade biar lebih enak akses dan ingetnya. Ok deh, tolong yah dan thanks ya bro. Tar klo udh jadi tolong di kabarin thread nya apa, saya ikut ramaikan deh. Oh ya id kaskus saya marvelnube. Sekali lagi, thanks a lot ya!

  6. Edwin says:

    Saya sudah update penejlasan tambahan “menapa pajak royalty itu perlu” di artikel blog ini yg lain. SIlakan lihat: http://indonesianmoviecrisis.org/2011/07/04/bagaimanakah-penjelasan-gamblang-dan-konkrit/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s